Rendah Diri, Mengapa dan Bagaimana..

8 12 2009

Minder atau rendah diri adalah perasaan diri tidak mampu dan menganggap orang lain lebih baik dari dirinya.Orang yang merasa minder cenderung bersikap egosentris, memposisikan diri sebagai korban, merasa tidak puas terhadap dirinya, mengasihani diri sendiri dan mudah menyerah.

Sering kali kita lebih menghargai orang lain daripada diri sendiri. Sikap ini membuat kita menjadi “minder” dan bahkan mungkin enggan berinteraksi dengan orang lain.Tentu saja sikap “minder” akan merugikan diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Sebab kita tidak bisa membuat diri kita berharga bagi orang lain dan mendedikasikan talenta ataupun keterampilan kita bagi orang-orang di sekitar kita. Untuk mengatasi sikap minder tersebut ada satu syarat, yakni menghargai diri sendiri.

Minder adalah tipikal orang yg bermental lemah. Mental yg lemah akan merasa selalu tidak aman. Selalu gelisah dan kuatir. Karena kerja otak sudah dipenuhi dg rasa kuatir, takut dan gelisah tanpa sebab atau disebabkan oleh hal-hal kecil, maka kerja otakpun menjadi lemah dan tidak dapat berfungsi untuk memikirkan hal-hal besar yg bermanfaat buat diri sendiri dan orang lain.

Ciri-ciri orang yang merasa minder ialah:





PROSA GURU

1 12 2009

Sebuah Prosa oleh Fianty

Empat Tahun menelusuri jalan akademik
Memutar otak
Mengatur strategi
Membangun paradigma
Merajut kecintaan dan semangat
Penghujung waktu terdengar dan tercetus bait
“Kami calon manusia pendidik bertekad ….mengabdi pada masyarakat, menyebarkan ilmu, dan mencerdaskan anak bangsa…”
He…he…kedengarannya serius.
Hai…tapi tunggu…tunggu dulu…”sepertinya ada yang salah dalam bait itu…apa ya..???
Cita-cita????….memang itu yang akan jadi lakon hidup guru…
Jadi sukses dalam karier guru????…ah itu sih tergantung
Jadi konglomerat ??? wah itu namanya ketelingsut …
Tapi apa mungkin ya….
Beberapa bulan yang lalu…aku coba berlabuh pada sebuah institusi pendidikan
Lebih kerennya sih “Sekolah favorit”
Tampak dari kejauhan gedung itu megah…
Tampak ketengah halamannya luas…waw
Tampak ke dalam …lebih luar biasa…
Tiba-tiba…hatiku berkata…ayo bangun…bangun…bangun…
Lihat…lihat…dihadapanmu ada anak-anak bangsa yang menggeliat kesakitan
Tolong mereka…angkat mereka…antarkan mereka ke depan pintu gerbang kebaikan, kesuksesan, kemandirian, dan bla..bla…
Mereka sakit!!!!…….
Ya…sakit sikapnya…sakit otaknya…sakit Harapannya…
Dalam analogiku …mereka itu laksana tembikar yang tergastur apik namun tak Tersentuh dalam proses
Mereka itu laksana kayu..kayu yang kerap menopang pada dahan lain
Mereka itu laksana air…air yang mulai terkontaminasi oleh formula asing yang berakibat virus…
Pikirkan…!!!.pikirkan!!!
Tersadar diriku…rekeningku bertuliskan angka-angka yang lumayan…
fantastis…tidak juga…
Lumayan…ya…sangatlah….
Sekadar  mampir ke warteg dan singgah ke kontrakan yang beraroma rupa
Setahun sudah impianku terbangun di gedung megah itu…
Rumah sendiri…
Status sosial merangkak naik
Kata-kata motivasi terbangun…
Selamat tinggal kemiskinan dan aku benci kemiskinan…..
Namun…..langkah-langkahku demikian beratnya..manakala tuntutan hidupku berubah dan takdir masih mengakrabi dalam sebuah dilema….
Aku seorang pahlawan..
Sepanjang jaman…sebagai penjual jasa…pahlawan tanpa tanda jasa
Pahlawan yang hidup di rumah kontrakan
Pahlawan yang menopang jalan hidupnya dengan kedua kakinya
Pahlawan yang teronggok di sampah untuk mengais tambahan
Pahlawan yang tergopoh-gopoh melebarkan sayap lesnya untuk harapan
Pahlawan yang hanya bisa beli obat warungan dan berharap rembes-an
Namun….dihari guru ini….akhirnya aku pun punya penghargaan
Terdengar merdu…
Dan membangkitkan bulu roma
Untuk menafsirkan makna seorang guru
Dari bentangan nada indah…
“Kita jadi pintar dibimbing Pak guru…Kita jadi pandai dibimbing Bu guru
“guru bak pelita, penerang dalam gulita…jasamu tiada tara”
Akhirnya…kuputuskan untuk melanjutkan hidupku dalam prosa guruku dan aku ingin meniru sapa syair sang pujangga
Jadilah engkau seperti pohon di puncak bukit yang tumbuh tegak dan rimbun;
Kalau engkau tidak bisa seperti pohon di puncak bukit, jadilah engkau seperti  pohon yang tumbuh di tepi jalan untuk menaungi pejalan kaki dari teriknya matahari;
Kalau engkau tidak  bisa seperti pohon yang tumbuh di tepi jalan, jadilah engkau seperti semak belukar yang tumbuh di tanggul sungai untuk menahan lajunya air;
Kalau engkau tidak bisa seperti semak belukar yang tumbuh di tanggul sungai, jadilah engkau seperti bunga bakung yang diam-diam berbunga di musim kemarau dan penghujan;
Kalau engkau tidak bisa seperti bunga bakung, jadilah engkau seperti rumput manis yang tumbuh di jalan setapak,  yang membawa orang pada mata air kehidupan, sebab tidak semua orang harus menjadi besar, kuat dan perkasa, tetapi sejauh mana engkau membuat hidupmu bermakna.
(Khalil Gibran)
Semoga teladan itu tetap menghiasi diri kita
Dan semangat untuk bangkit pun tetap menyala
Menjadi pelita yang selalu menerangi
Langkah-langkah anak bangsa….
Selamat Hari Guru
Semoga Allah Meridhoi kita




25 11 2009

Selamat Hari Guru

Oleh : Fadlan Adiyanto, Ahmad Fikri, Dita Rifky

Sejernih buih embun ketulusanmu
Terasa perih tak kau hiraukan perihnya
Demi amanah-amanah bangsa
Walau letih, keringat bercucuran
Yakinlah ketulusan bernilai di matanya
Seberkas senyum syarat menyampaikan amanah
Secarik keberanian untuk membenah negeri ini
Sukacita rasuki hatimu
Tapi semua itu tak tercatat di negeri ini
Hanya catatan untuk diri sendiri
Citramu adalah sebuah kunci
Untuk membuka jalan keberhasilan
Karya-karya mu seperti sebuah buku
Di setiap lembar penuh dengan ilmu
Akankah kau tersenyum….
Menatapi bangsa yang tak peduli akan pengorbananmu
Akankah kau menangis bangga
Meratapi manisnya senyuman anakh bangsamu
Tersenyumlah Indonesiaku
Karena gurumu selalu mendidikmu
Satu senyuman, setetes keringat dan segenggam semangat
Kau mendidik anak bangsaku, Indonesiaku
Terima kasih guruku ….
Terima kasih guruku
Aku kan selalu mengingat dirimu .




Bila hukum diterapkan ”mengeja teks”, tanpa nurani

23 11 2009

Inikah keadilan yang ingin ditegakkan oleh aparat hukum? Hanya gara-gara mencuri tiga buah kakao, Nenek Minah, seorang warga Desa Darmakradenan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, harus diseret ke pengadilan. Sang nenek pun akhirnya dihukum satu setengah bulan kurungan.bPerempuan 65 tahun itu memang bersalah karena mencuri kakao dari kebun PT Rumpun Sari Antan pada akhir Agustus lalu. Tapi menyeret dia sebagai pesakitan ke meja hijau sangatlah berlebihan. Ia meminta maaf segera setelah mandor memergokinya hendak memungut kakao yang hanya seharga Rp 2.000 itu. Si nenek pun tidak jadi mengambil buah kakao tersebut.

Jaksa dan hakim sebenarnya tahu bahwa rasa keadilan telah diusik. Itulah mengapa seorang jaksa yang menuntut Nenek Minah ikut mengongkosi perempuan itu selama menjalani sidang. Hakim yang menangani perkara ini pun sempat menangis. Sayangnya, sang jaksa tetap menuntutnya dengan hukuman berat: enam bulan penjara. Hakim pun tetap menyatakan si nenek bersalah kendati hanya diganjar hukuman percobaan.

Bila penegak hukum hanya berpatokan pada aturan yang kaku, itulah tragedi yang muncul. Mestinya pula sejak awal polisi tidak memproses kasus ini. Meskipun wajib menindaklanjuti setiap pengaduan pelapor, polisi dibolehkan melakukan upaya agar kasusnya tak perlu diteruskan. Misalnya, polisi mendamaikan kedua pihak. Berdasarkan pengakuan keluarga Minah, polisi sepertinya tidak melakukan upaya ini.
Read the rest of this entry »








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.