Dirjen Mandikdasmen; Penerima DAK Harus Amanah

29 01 2010

Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Suyanto, Ph. D, mengingatkan bahwa semua penanggung jawab Dana Alokasi Khusus (DAK) harus bisa amanah, menyalurkan dan memanfaatkan DAK sesuai tujuan yang telah ditentukan.

Hal itu disampaikan Dirjen Mandikdasmen dalam acara pembukaan Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Program Perluasan dan Peningkatan Mutu SMP, di Hotel Horison, Jl. Pelajar Pejuang 45, nomor 121, Buah Batu, Bandung, Kamis Malam (28/01).

“DAK untuk SMP ini memang baru pertama kali. Meski demikian, ini melibatkan jumlah uang yang tidak sedikit. Kurang lebih, totalnya 3,7 trilyun. Karena itu, akuntabilitas mejadi sangat penting,” kata Suyanto.

Untuk menjaga akuntabilitas, Suyanto menghimbau agar kepala dinas dan atau penanggung jawab DAK mempelajari Petunjuk Tekhnis (Juknis) DAK SMP, yang di dalamnya ada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, Surat Edaran Dirjen Mandikdasmen, dan Surat Edaran Direktur Pembinaan SMP.

“Jangan mengabaikan itu, karena DAK di SD itu sudah ada yang memakan korban akibat tidak melakukan sesuatu sesuai dengan Juknisnya. Ini benar-benar saya ingatkan,” pesan Suyanto.

Suyanto menambahkan, bahwa DAK merupakan program yang mendapat perhatian khusus dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia pernah diundang KPK dan mendapat penjelasan tentang penelitian KPK di bidang pelaksanaan DAK.

Read the rest of this entry »

Advertisements




TUHAN TELAH MENETAPKAN REZEKI KITA. BUKAN PADA JUMLAHNYA, TETAPI PADA SYARATNYA

28 01 2010

Sebuah Catatan Super Dari Mario Teguh…..

Sahabat Indonesia yang super, yang sedang membangun kehidupan yang ber-rezeki baik.

Mudah-mudahan hari Rabu yang super ini mendapati Anda dalam kualitas hati yang bening, yang menjadi penentu kemurnian dari rezeki yang Anda unduh bagi penyejahteraan Anda dan keluarga terkasih.

Berikut adalah Super Note yang saya susunkan, karena demikian banyaknya orang yang meyakini bahwa terbatasnya rezeki mereka adalah nasib yang harus mereka terima.

Bahwa rezeki kecil adalah ketetapan yang harus diterima dengan keikhlasan, dan bahwa apa pun upaya mereka tidak akan mengubah yang sudah ditetapkan oleh Tuhan.

Seolah-olah mereka dapat membatalkan janji Tuhan bahwa nasib sebuah kaum akan diperbaiki jika mereka berupaya.

MARIO TEGUH SUPER NOTE
TUHAN TELAH MENETAPKAN REZEKI KITA.
BUKAN PADA JUMLAHNYA, TETAPI PADA SYARATNYA.

Sahabat saya yang berhak bagi sebesar-besarnya rezeki,
Marilah kita mulai dengan menerima formula yang ketetapannya sudah dibuktikan sejak lahirnya kemanusiaan, bahwa:

Rezeki kita kecil, jika kita bernilai kecil bagi orang lain.
Rezeki kita besar, jika kita bernilai besar bagi orang lain.

Dan satu lagi,
Rezeki itu bukan hanya uang.

Rezeki itu meliputi semua rahmat Tuhan bagi kita, yang bisa berupa kesehatan, kedamaian, ilmu, keluarga yang sejahtera dan berbahagia, nama baik, dan pengaruh yang besar untuk memajukan kebaikan dan mencegah terjadinya keburukan.
Read the rest of this entry »





MENGELOLA KONFLIK DALAM UPAYA MEMBANGUN KERJA SAMA TIM

26 01 2010

Organisasi sebagai suatu sistem terdiri dari komponen-komponen (subsistem) yang saling berkaitan atau saling tergantung (inter dependence) satu sama lain dan dalam proses kerja sama untuk mencapai tujuan tertentu (Kast dan Rosenzweigh, 1974). Sub-subsistem yang saling tergantung itu adalah tujuan dan nilai-nilai (goals and values subsystem), teknikal (technical subsystem), manajerial (managerialsubsystem), psikososial (psychosocial subsystem), dan subsistem struktur (structural subsystem).

Dalam proses interaksi antara suatu subsistem dengan subsistem lainnya tidak ada jaminan akan selalu terjadi kesesuaian atau kecocokan antara individu pelaksananya. Setiap saat ketegangan dapat saja muncul, baik antar individu maupun antar kelompok dalam organisasi. Banyak faktor yang melatar belakangi munculnya ketidakcocokan atau ketegangan, antara lain sifat-sifat pribadi yang berbeda, perbedaan kepentingan, komunikasi yang “buruk”, perbedaan nilai, dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan inilah yang akhirnya membawa organisasi ke dalam suasana konflik.

Agar organisasi dapat tampil efektif, maka individu dan kelompok yang saling tergantung itu harus menciptakan hubungan kerja yang saling mendukung satu sama lain, menuju pencapaian tujuan organisasi. Namun, sabagaimana dikatakan oleh Gibson, et al. (1997:437), selain dapat menciptakan kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. Hal ini terjadi jika masing-masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri-sendiri dan tidak saling bekerjasama satu sama lain.

Sebuah organisasi tidak akan berjalan dengan baik kalau didalamnya tidak ada pemimpin sebagai orang yang bertanggung jawab atas organisasi tersebut, dan pemimpin itu tidak akan maksimal dalam melaksanakan tugasnya tampa adanya bawahan (karyawan) yang selalu berintraksi dan membantunya. Adanya pemimpin dan bawahan (karyawan) tersebut adalah suatu bukti bahwa organisasi dan struktur saling berkaitan. Oleh karena itu, istilah struktur digunakan dalam artian yang mencakup: ukuran (organisasi), derajat spesialisasi yang diberikan kepada anggota kepada organisasi, kejelasan jurisdiksi (wilayah kerja), kecocokan antara tujuan anggota dengan tujuan organisasi, gaya kepemimpinan, dan sistem imbalan. Dan sebagai tolak ukur, dalam penelitian menunjukkan bahwa ukuran organisasi dan derajat spesialisasi merupakan variabel yang mendorong terjadinya konflik struktur. Makin besar organisasi, dan makin terspesialisasi kegiatannya, maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya konflik.

Jadi, konflik adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya ketidak sesuaian atau perbedaan antara dua pendapat (sudut pandang), baik itu terjadi dalam ukuran (organisasi), derajat spesialisasi yang diberikan kepada anggota keorganisasi, kejelasan jurisdiksi (wilayah kerja), kecocokan antara tujuan anggota dengan tujuan organisasi, gaya kepemimpinan, dan sistem imbalan yang berpengaruh atas pihak-pihak yang terlibat, baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif . Namun secara umum Konflik Hirarki (Sruktur) adalah konflik yang terjadi diberbagai tingkatan organisasi.

Konflik dapat menyebabkan orang memperhatikan bidang-bidang problem pada sebuah organisasi, dan hal tersebut dapat menyebabkan dicapainya tujuan orgnisatoris secara efektif. Akan tetapi, apabila suatu organisasi dengan kaku menolak adanya perubahan, maka situasi konflik yang terjadi, tidak akan reda. Tensi akan makin meningkat “suhunya” dan setiap dan konflik yang baru yang terjadi akan makin menceraiberaikan sub unit-sub unit organisasi yang bersangkutan.

Read the rest of this entry »