STOP BULLYING

20 09 2011

Raffa sudah kelas 1 SD sekarang, alangkah senangnya hati kami tatkala melihat ia memasuki ruang kelas untuk pertama kalinya. Alhamdulillah hingga saat ini ia termasuk anak yang  cerdas, mudah diarahkan dan menerima pelajaran. Saya lihat nilai-nilainya sangat baik, bahkan ia cerita sering menjadi tempat menyontek teman-teman kelasnya.. hihihi…

Namun beberapa hari ini hati saya sedikit risau ketika dalam beberapa kali kesempatan belajar di rumah, ia menyampaikan keinginannya untuk pindah sekolah karena teman-temannya menjauhi. Pada awalnya saya berfikir hal tersebut adalah biasa bagi anak-anak seumuran mereka, bercanda, musuhan, baikan lagi…

Namun tadi malam Raffa lebih jelas menyampaikan alasan kenapa ia ingin keluar dari sekolah tersebut, ia beralasan gak betah karena sering diganggu baik secara fisik oleh temannya maupun gangguan verbal dalam bentuk cemooh dan dikucilkan dan kalimat-kalimat pengusiran dari sekolah oleh beberapa teman kelasnya.

Mungkinkah Raffa korban bullying? Bullying terjadi pada siswa kelas 1 SD?!

Saya baru saja mengkomunikasikan hal ini kepada pihak sekolah sambil berharap semoga apa yang  terjadi kepada Raffa semata-mata dinamika anak kecil dan terus memberikan dukungan dan penguatan kepada Raffa.

Alhamdulillah, ternyata kebetulan tadi pagi Raffa sudah dipindahkan posisi duduknya oleh wali kelas ke posisi depan dari sebelumnya di tengah. Wali kelas pun menyadari potensi Raffa dan mengakui kelemahannya dalam mengawasi siswa siswa yang hanya 5 siswi dari 20 siswa. ia pun berjanji segera menindaklanjuti hal ini.

Itulah yang melatarbelakangi saya mengangkat tema bullying, tak terbatas untuk sekolah ataupun kuliah.. di kantorpun bisa saja terjadi…

Definisi Bullying

Apakah arti kata bullying ? Istilah ini di Indonesia masih terdengar asing dan sulit mencari padanannya, untuk itu mari kita simak beberapa definisi berikut:

    • Menurut kamus Webster, makna dari kata bullying adalah penyiksaan atau pelecehan yang dilakukan tanpa motif tapi dengan sengaja dilakukan berulang-ulang terhadap orang yang lebih lemah.
    • Adapun menurut Yayasan SEJIWA, bullying adalah suatu situasi dimana terjadinya penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan orang/kelompok kepada seseorang hingga membuat korban merasa terintimidasi.
    • Secara umum bullying dapat diartikan sebagai sikap agresi dari seseorang atau kelompok dengan tujuan untuk menyakiti orang lain baik secara fisik maupun mental.

Jenis Bullying

Olweus (1993), mengkategorikan dua jenis bullying terdiri dari Direct Bullying yaitu intimidasi secara fisik dan verbal serta Indirect Bullying berupa kekerasan mental melalui isolasi secara sosial.

    • Bullying fisik yaitu perlakuan kasar secara fisik yang dapat dilihat secara kasat mata seperti menjambak rambut, kerah baju, menampar, menendang dll.
    • Bullying verbal yaitu perlakuan kasar yang dapat didengar seperti memalak, mengancam, memaki, mencemooh, memfitnah dll.
    • Bullying mental yaitu perlakuan kasar yang tidak dapat dilihat dan didengar seperti mengucilkan, memandang sinis dll.

Pelaku Bullying

Terjerumusnya seorang anak menjadi pelaku bullying bisa dipicu oleh multi faktor diantaranya ia mencontoh perilaku salah satu anggota keluarga yang juga pelaku bullying. Selanjutnya ia mengaktualisasikan diri di lingkungan yang mendukung seperti di sekolah yang melakukan pembiaran pada perilaku bullying.

Korban Bullying

Anak yang terlihat santun, lugu , miskin, lemah fisiknya dan nampak berbeda seringkali menjadi korban bullying. Penderitaan ternyata tidak hanya dialami oleh si korban saja, seringkali orangtua mengalami hal yang sama terutama mengalami tekanan mental akibat perilaku bullying yang dilakukan pada buah hatinya.

Faktor Pendukung Budaya Bullying

Masih lekatnya keyakinan sebagian masyarakat bahwa sebaik-baiknya pola asuh anak adalah dengan menerapkan disiplin tinggi disertai kekerasan demi pencapaian sukses si anak. Anak-anak yang terbiasa mendapat perlakuan kasar dari orangtuanya, tanpa sadar ia akan meniru dan menerapkan sikap kasar dalam perilakunya sehari-hari hingga mendorong terjadinya perilaku bullying kepada orang lain.

Banyak anak korban keretakan rumahtangga melampiaskan rasa frustasinya dengan melakukan agresi kepada orang lain terutama kepada orang yang dianggapnya lemah dan tak akan mampu melawan.

Sebagian masyarakat menganggap praktek bullying adalah proses alamiah dalam fase tumbuh kembang seorang anak dimana perlakuan tersebut justru akan memperkuat mental korban dan pelaku. Tak heran banyak anak merasa bangga menjadi pelaku bullying karena mengalami pembiaran dan pembenaran oleh orangtua, guru dan lingkungannya.

” Kamu jangan lebay deh…cengeng amat sih baru dikata-katain segitu saja sudah melempem…sudah cuekin saja atau kamu lawan sekalian…!!” itulah kata-kata yang sering diucapkan orangtua ataupun guru saat mendengar pengaduan praktek bullying dari anak.

Orangtua atau guru sering tidak tahu bahwa pelaku bullying biasanya senang berkelompok dan kalaupun sendirian, biasanya sikap pelaku sangat brutal dan menghalalkan segala cara. Hal ini jelas semakin mempersulit si korban untuk membela diri. Akhirnya praktek bullying semakin merajalela dan sulit diberantas karena adanya dukungan pembenaran dari berbagai pihak.

Akibat Bullying

Para korban bullying biasanya mengalami guncangan jiwa hingga mengalami depresi, prestasi akademis menurun drastis, malas pergi kesekolah, menjadi penakut, sering marah-marah, mudah tersinggung, sering berbohong, menarik diri dari pergaulan dan bahkan banyak yang mencoba bunuh diri.

Mereka juga seringkali tidak memiliki keberanian untuk membela diri atau melaporkan ulah pelaku kepada pihak sekolah atau orangtuanya karena beranggapan bagai menelan simalakama, bila melapor belum tentu menyelesaikan persoalan karena acapkali justru si korban disalahkan karena dianggap terlalu lemah atau pelaku semakin agresif demi membalas dendam karena telah dilaporkan.

Sementara itu kecenderungan berbohong si korban adalah akibat dari tuntutan pelaku yang sering memeras, meminta suatu benda atau uang dengan paksaan.

Efek jangka panjang bagi pelaku bullying adalah ia akan mudah menjadi pelaku kriminal karena ia terbiasa lepas kontrol, tak lagi menghargai norma yang berlaku di masyarakat.

Dari data National Mental Health and Education Center tahun 2004 di Amerika diperoleh data bahwa bullying merupakan bentuk kekerasan yang umumnya terjadi dalam lingkungan sosial antara 15% dan 30% siswa adalah pelaku bullying dan korban bullying

Menurut hasil penelitian di Amerika Serikat pada tahun 2001, sekitar 77% siswa pernah mengalami bullying yang berarti satu dari empat siswa di AS pernah mengalami bullying. Negara maju lainnya dimana banyak terjadi praktek bullying di sekolah adalah Jepang, sebanyak 10 % pelajar yang stress karena trauma oleh bullying telah melakukan percobaan bunuh diri.

Bagaimana dengan Indonesia? Kalau Luke dari UK mengakhiri kisahnya dengan happy ending yakni berjuang keras menjadi penari handal, berbeda dengan nasib beberapa remaja Indonesia yang menjadi korban bullying, mereka mengakhiri hidupnya dengan tragis, diantaranya adalah seorang remaja putri yang sering diejek teman-temannya di sekolah karena ayahnya seorang penjual bubur, ia merasa malu hingga akhirnya bunuh diri. Menurut hasil penelitian Yayasan SEJIWA (2006), antara tahun 2002-2005 telah terjadi 30 kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri menimpa korban bullying dengan rentang usia antara 6-15 tahun

Pencegahan dan Penanganan Bullying

Kasih sayang orangtua yang proporsional dalam proses tumbuh kembang anak serta dukungan penuh pada potensinya sangatlah penting. Hal ini akan menumbuhkan rasa percaya diri dan memenuhi kepuasan batin pada anak hingga mereka akan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berakhlak mulia.

Tanamkan kesadaran pada anak untuk menghargai privasi orang lain, bahwa tak seorangpun berhak mengganggu ketenangan hidup orang lain dan perilaku agresi adalah sebuah pelanggaran hukum yang dapat dituntut di muka pengadilan.

Orangtua korban wajib memberi dukungan dan perlindungan kepada anaknya untuk memulihkan rasa percaya diri serta keberanian untuk melindungi diri dan menolak praktek bullying.

Berbagai cara bisa dilakukan untuk mencegah perilaku bullying antara lain dengan melaporkan ke pihak sekolah agar si pelaku diberi peringatan. Bila ulah pelaku sudah sangat mengganggu dan setelah dilakukan teguran secara persuasive namun tidak juga terjadi perbaikan, jangan ragu-ragu, dilaporkan saja ke aparat kepolisian.

Sekali lagi, masyarakat sebaiknya sepakat untuk mencegah terjadinya praktek bullying oleh siapapun dan kepada siapapun

Sebagai penutup, di bawah ini adalah sebuah lyric lagu  STOP BULLYING yang dinyanyikan dan aransemen oleh Candil Seurieus bekerjasama dengan  Diena Haryana dari Yayasan SEJIWA

Hai anak sekolah
Apa yang kau cari
Waktu kau gencet adik kelasmu

Ramai-ramai kau ejek si lemah
Sengaja kucilkan si pemalu
Memalak demi sebatang rokok

Belum tentu, kamu lebih sukses
Dari mereka yang pernah kau tindas

Stop Bullying!
Kita bukan calon monster
STOP!

Hai anak sekolah
Apa kau tak malu
Tertawakan anak yang tak mampu

Ramai-ramai kau hajar si ngocol
Lalu ancam kalau lapor guru
Atau kau rasa sendiri akibatnya

Belum tentu, kamu lebih sukses
Dari mereka yang pernah kau tindas


Stop Bullying!
Kita bukan calon monster
STOP!

– Dari berbagai sumber

– Lagu Stop Bullying dapat didengarkan di bawah ini:


stop bullying


Actions

Information

2 responses

3 10 2011
Triono

Memang benar, banyak orang tua yang menganggap bullying adalah hal yang biasa. karena mereka bersekolah dimasa yang semangat-nya berbeda.. belum banyak terkontaminasi dengan racun jaman sekarang…

semoga pihak sekolah dan orangtua semakin sadar dampak bullying bagi anak kita dan melakukan terobosan-terobosan untuk mencegah bullying di sekolah.

3 10 2011
Arif

Anaknya sekolah di mana, pak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: